TUGAS RESUME MATERI DAY 1,2,3,4 PKKMB UNIVERSITAS LAMPUNG
1. Materi Day 1 PKKMB Universitas
“Pengembangan Karakter Mahasiswa”
Pemateri: Irjen. Pol. Helmy Santika, S.H., S.I.K., M.Si. (Kapolda Lampung)
Pada hari pertama PKKMB Universitas Lampung, Irjen. Pol. Helmy Santika menyampaikan materi mengenai Pengembangan Karakter Mahasiswa. Dalam paparannya, beliau mengawali dengan membahas situasi perkembangan zaman yang kini memasuki era Society 5.0. Era ini menempatkan teknologi sebagai pusat kehidupan, di mana kecerdasan buatan, robot, dan sistem digital saling terhubung untuk memudahkan aktivitas manusia. Namun, kemajuan teknologi juga membawa tantangan tersendiri. Karena itu, beliau menegaskan pentingnya pendidikan karakter, moral, dan keteladanan sebagai bekal utama agar mahasiswa tidak terjebak pada dampak negatif perkembangan teknologi.
Beliau menjelaskan bahwa menuju cita-cita Indonesia Emas, generasi muda harus memiliki kesiapan mental, pengetahuan yang luas, serta kemampuan beradaptasi dengan cepat. Tantangan di masa depan tidak hanya berkaitan dengan persaingan global, tetapi juga ancaman yang muncul akibat teknologi itu sendiri. Contohnya, penggunaan robot atau kecerdasan buatan yang menggantikan interaksi manusia sejak usia dini, sehingga anak-anak kehilangan momen kebersamaan dengan orang tua. Hal ini menjadi peringatan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan nilai kemanusiaan.
Kapolda Lampung juga memaparkan potensi kejahatan di masa depan yang dapat terjadi di berbagai sektor, seperti kesehatan, kloning, komputer, hiburan, perkotaan, pendidikan, energi, makanan, hingga dunia kerja. Salah satu yang sedang menjadi sorotan adalah pelanggaran royalti di tempat hiburan. Dengan memberikan gambaran ini, beliau ingin mahasiswa lebih peka, waspada, dan memahami bahwa perkembangan zaman membawa risiko baru yang harus diantisipasi. Dalam penyampaian motivasi, beliau mengingatkan bahwa hidup adalah pilihan. Mahasiswa perlu menentukan jalan yang ingin ditempuh, apakah ingin berada di jalur yang membawa kebaikan atau sebaliknya. Pesan ini diibaratkan dengan perbedaan konsekuensi yang diajarkan agama, seperti surga dan neraka, sebagai pengingat untuk selalu memilih jalan yang benar. Pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan masa depan kita.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tipe-tipe mahasiswa yang sering ditemui di lingkungan kampus. Ada mahasiswa “red flag” yang perilakunya perlu dihindari, mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat), mahasiswa kunang-kunang (aktif saat ada acara tertentu saja), mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang), hingga mahasiswa rajin yang aktif dan konsisten dalam berbagai kegiatan positif. Beliau mengajak seluruh mahasiswa baru untuk merenung dan memilih tipe mahasiswa seperti apa yang ingin mereka jalani, dengan harapan mampu menjadi pribadi yang produktif, berprestasi, dan bermanfaat.
Selain itu, beliau juga menyampaikan manfaat kuliah sambil bekerja bagi mahasiswa. Aktivitas ini dapat memperluas peluang sukses, menambah wawasan, memperluas jaringan (networking), melatih manajemen waktu, menentukan skala prioritas, mengasah kesabaran serta pengendalian emosi, dan membentuk jiwa kepemimpinan (leadership). Semua manfaat tersebut menjadi bekal berharga untuk menghadapi dunia kerja dan tantangan hidup setelah lulus.
Di akhir materi, Kapolda Lampung menegaskan kembali pentingnya memahami Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penerima ilmu, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Beliau juga mengingatkan bahwa kehidupan kampus penuh dinamika, baik dalam kegiatan akademik maupun kegiatan lapangan. Contohnya, dalam hal penyampaian pendapat di muka umum seperti unjuk rasa, mimbar bebas, atau aksi damai. Beliau menjelaskan bahwa bentuk penyampaian pendapat bisa berupa demonstrasi, pawai, pembagian selebaran, dan pemasangan pamflet, namun semua itu harus dilakukan secara tertib, sesuai aturan, dan menghindari tindakan anarkis.
Sebagai penutup, Kapolda Lampung memberikan pesan agar mahasiswa baru memanfaatkan masa kuliah sebaik-baiknya untuk mengembangkan diri, baik secara akademik maupun non-akademik. Mahasiswa diharapkan menjadi generasi yang berkarakter, cerdas, dan memiliki kepedulian sosial, sehingga kelak mampu menjadi bagian dari pencapaian Indonesia Emas.
“Perguruan Tinggi di Era Digital & Revolusi Industri”
Pemateri: Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T. – Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Lampung
Prof. Suripto membuka sesi dengan semangat, memimpin yel-yel PKKMB 2025 dan membagikan kisah pribadinya sebagai “anak kampung yang bisa kuliah”, mengingatkan mahasiswa baru untuk bersyukur dan menjadikan keberhasilan sebagai teman tanggung jawab, bukan hanya kebanggaan. Beliau lalu menggambarkan Universitas Lampung secara menyeluruh—sejarah, visi, hingga transformasi budaya akademik—menekankan bahwa adaptasi sistem pembelajaran modern adalah kunci agar perkuliahan bisa berjalan efektif di era digital ini.
Sebagai Wakil Rektor I, beliau turut memaparkan struktur pimpinan universitas saat ini. Rektor UNILA adalah Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN Eng.; sementara empat Wakil Rektor periode 2023–2027 adalah:
1. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T. (Bidang Akademik)
2. Rudy, S.H., LL.M., LL.D. (Bidang Umum & Keuangan)
3. Prof Sunyono,M.Si. (Bidang Kemahasiswaan & Alumni)
4. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., MBA. (Bidang Perencanaan, Kerjasama & TIK)
Beliau menegaskan bahwa visi UNILA untuk menjadi universitas bereputasi internasional tidak akan tercapai tanpa kolaborasi erat antara mahasiswa, staf administrasi, dan dosen “mahasiswa hebat tapi jika administrasi tidak mendukung, cita-cita universitas tidak akan mencapai puncak gemilang yang diimpikan.”
Selanjutnya, beliau memaparkan sistem Information System of Quality Assurance (ISQA) sebagai tolok ukur akreditasi program studi: proses evaluasi akreditasi melibatkan dosen, mahasiswa, alumni, dan pemangku kepentingan lainnya. UNILA telah berprestasi dengan banyak program studi yang meraih akreditasi Unggul, A, dan Baik, bahkan beberapa dengan standar internasional. Beliau menjelaskan bahwa demi memperkuat akreditasi internasional, UNILA terus mendorong keterlibatan mahasiswa asing dan menjalin hubungan dengan lembaga seperti AACSB, EFMD GLOBAL, AUN-BE, ASEAN University Network (AUN-QA).
Dari aspek program studi, Prof. Suripto menginformasikan bahwa saat ini 38 prodi UNILA mendapat akreditasi Unggul, 12 prodi A (Sangat Baik), dan sejumlah prodi baru dengan akreditasi Baik. Untuk detail tiap prodi, mahasiswa dapat mengecek melalui situs resmi UNILA. Beliau juga menyebut contoh sertifikat akreditasi sebagai ilustrasi konkret pencapaian kualitas lembaga.
Beliau memperkenalkan jargon anyar kampus, “Be Strong” —yang dirumuskan sebagai simbol kebangkitan institusi pasca tantangan internal dan skandal—berisi nilai-nilai penting:
B: Business, finance, investment, assets
E: Empowerment of human resources
S: Services for community
T: Teaching
R: Research
O: Organizational partnership
N: Network infrastructure
G: Governance, risk management & compliance
Dalam konteks kolaborasi internasional, beliau menekankan bahwa UNILA aktif menjajaki peluang dengan berbagai lembaga global dan bahkan pernah mengirim hampir 100 mahasiswa ke luar negeri meski tahun ini belum optimal karena pertimbangan efisiensi.
Beliau juga memaparkan fasilitas institusi yang mendukung mahasiswa, seperti perpustakaan modern, laboratorium yang terintegrasi dengan inovation center, fasilitas olahraga, hingga asrama mahasiswa. Tak hanya itu, beliau menyampaikan rencana pembangunan Rumah Sakit Pendidikan dan Fasilitas Penelitian Terpadu (Teaching Hospital & Research Center) untuk memperkuat layanan akademik dan kesehatan, sekaligus mendukung pengabdian masyarakat.
Sebagai penutup, beliau menyampaikan pesan agar mahasiswa memanfaatkan seluruh kemudahan di kampus fasilitas, program internasional, dan ikon “Be Strong” sebagai pijakan untuk tumbuh menjadi generasi yang berwawasan global, berkarakter kuat, dan siap menghadapi tantangan di era transformasi digital dan revolusi industri.
“Transformasi Bandar Lampung Menuju Kota Metropolitan”
Pemateri: Bapak Paryanto, S.IP (Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Bandar Lampung) Mewakili Wali Kota Bandar Lampung, Hj. Eva Dwiana
Pada kesempatan ini, Bapak Paryanto hadir mewakili Wali Kota Bandar Lampung, Hj. Eva Dwiana, untuk menyampaikan materi bertema “Transformasi Bandar Lampung Menuju Kota Metropolitan.” Bunda Eva mengawali sambutannya dengan ucapan selamat kepada para mahasiswa baru Universitas Lampung yang berhasil lolos dan memulai perjalanan akademiknya. Beliau menegaskan bahwa PKKMB merupakan forum penting untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam mengenai kehidupan kampus, dunia akademik, dan nilai-nilai kebangsaan. Selain menjadi ajang pengenalan, PKKMB diharapkan bebas dari perploncoan dan justru menjadi wadah positif bagi pembentukan karakter mahasiswa.
Dalam pesan yang disampaikan, Bunda Eva mengajak mahasiswa menjadikan PKKMB sebagai sarana untuk memahami kondisi kampus sebagai lingkungan akademis, meningkatkan pengetahuan baru, serta memanfaatkan fasilitas akademik secara maksimal. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan wawasan kebangsaan, membangun pola pikir kritis, dan mempersiapkan mahasiswa agar dapat belajar dengan baik di Universitas Lampung sambil tetap mematuhi norma-norma kampus. Pemahaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk berkompetisi secara sehat sekaligus menjauhkan diri dari pengaruh negatif.
Bunda Eva juga menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi penyampai aspirasi masyarakat, terlibat aktif dalam kegiatan seperti magang, dan memberikan solusi atas permasalahan yang ada, bukan justru menjadi bagian dari masalah. Kolaborasi yang baik antara mahasiswa dan civitas akademika diyakini akan mempercepat terwujudnya visi menjadikan Bandar Lampung sebagai kota metropolitan yang maju, modern, dan menjadi kebanggaan bersama.
Sebagai penutup, Bunda Eva berpesan agar mahasiswa senantiasa menjaga nama baik almamater dan kota Bandar Lampung. Mahasiswa diharapkan mampu meraih prestasi, menjaga integritas, dan berperan aktif di lingkungan sosial. Dengan semangat dan kontribusi nyata, generasi muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan menuju masyarakat yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
“Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara”
Pemateri: Brigjen TNI Haryantana, S.H. (Komandan Korem 043/Gatam)
Pada sesi ini, Brigjen TNI Haryantana membuka materi dengan pengenalan empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Beliau menekankan bahwa memahami dan mengamalkan nilai-nilai dari keempat pilar ini merupakan kunci menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Melalui cerita tentang kondisi bangsa, beliau mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya dan keberagaman, memiliki lebih dari 17.000 pulau (7.870 di antaranya telah memiliki nama). Kekayaan ini harus disertai dengan wawasan kebangsaan yang kuat, yang meliputi pemahaman terhadap kondisi internal, nasional, dan regional negara.
Beliau kemudian menguraikan situasi terkini, di mana bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penangkapan terduga pelaku kejahatan, situasi politik pasca-pilkada yang berjalan kondusif, hingga isu ketahanan pangan yang dipengaruhi kebijakan internasional seperti kebijakan Donald Trump. Dalam hal penanganan bencana alam, beliau menekankan pentingnya koordinasi lintas pihak dan kerja sama seluruh elemen masyarakat, yang terbukti mampu mengatasi berbagai bencana di Indonesia.
Materi dilanjutkan dengan pembahasan ancaman terhadap generasi muda, salah satunya adalah bahaya narkoba. Pemerintah menegaskan larangan keras terhadap narkoba karena dampak destruktifnya yang dapat merusak masa depan bangsa. Brigjen TNI Haryantana mengingatkan mahasiswa untuk tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba, mengingat mereka adalah kebanggaan orang tua, sekolah, daerah, dan bangsa. Beliau juga menyoroti berbagai gangguan keamanan di wilayah perbatasan, seperti penyelundupan barang ilegal, termasuk narkoba, yang marak terjadi di Kalimantan, perbatasan RI–RDTL, dan Papua. Semua ini menjadi ancaman serius terhadap kedaulatan negara.
Beliau memaparkan tiga unsur utama wawasan kebangsaan, yaitu rasa bangga terhadap bangsa, pemahaman kebangsaan, dan semangat kebangsaan. Dengan kekayaan alam dan jumlah pulau yang dimiliki Indonesia, mahasiswa diingatkan untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara agar tidak dirampas pihak asing. Nilai-nilai dasar wawasan kebangsaan seperti penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, cinta tanah air, dan kesetiakawanan sosial harus terus dipegang teguh.
Brigjen TNI Haryantana juga menyoroti ancaman lain seperti radikalisme, intoleransi, terorisme, dan gerakan separatis yang dapat memecah belah bangsa. Selain itu, isu pergaulan bebas, seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba menjadi permasalahan sosial yang harus dihindari oleh generasi muda. Dalam aspek demografi, pertumbuhan penduduk yang tinggi namun tidak merata dapat memunculkan masalah baru, sehingga perlu adanya program pemerataan pembangunan dan keluarga berencana. Beliau mengingatkan bahwa hilangnya jati diri bangsa dan menurunnya rasa cinta tanah air akan membawa dampak negatif bagi keberlangsungan negara.
Sebagai solusi, beliau mengajak mahasiswa untuk memiliki karakter kuat, tujuan hidup yang jelas, dan semangat kerja cerdas sekaligus keras demi masa depan. Mahasiswa harus berani menggali potensi diri, berkompetisi secara positif, mematuhi aturan (termasuk aturan kampus), dan menghindari segala bentuk pelanggaran. Beliau menegaskan pentingnya sikap cinta tanah air, semangat kerja sama, dan penghargaan terhadap perbedaan sebagai wujud nyata dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Di akhir materi, Brigjen TNI Haryantana menutup dengan pesan bahwa karakter pemuda-pemudi yang memiliki wawasan kebangsaan akan sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia. Mahasiswa diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan negara, mengembangkan potensi diri, dan menjadi kebanggaan bangsa di masa depan.
PKKMB hari pertama di Universitas Lampung menjadi pengalaman berharga yang membuka mata saya tentang arti menjadi mahasiswa sejati. Dari materi tentang pengembangan karakter, transformasi perguruan tinggi di era digital, peran mahasiswa bagi kota dan masyarakat, hingga nilai-nilai kebangsaan dan bela negara, semuanya mengajarkan bahwa keberhasilan di masa depan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga sikap, integritas, dan kepedulian. Pesan dari para pemateri menjadi pengingat bahwa masa kuliah adalah kesempatan emas untuk membentuk diri, berkontribusi nyata, dan menyiapkan diri menjadi generasi yang tangguh, cerdas, dan bermanfaat bagi bangsa. Dengan bekal ini, saya termotivasi untuk menjalani setiap langkah di kampus dengan penuh semangat dan tujuan yang jelas.
2. Materi Day 2 PKKMB Universitas
“Peran Mahasiswa di Era Digital dan Pencegahan serta Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi”
Pemateri: Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, UPA BK Satgas PPK-PT
Hari kedua PKKMB Universitas Lampung dimulai dengan suasana yang segar. Pagi itu, mahasiswa baru berdatangan dengan langkah cepat, sebagian membawa kopi, sebagian lagi bercanda dengan teman baru yang kemarin baru kenal. Di udara, terasa campuran rasa penasaran dan semangat untuk tahu apa yang akan dibahas hari ini.
cara dibuka dengan hangat oleh Dr. Saring Suhendro, S.E., M.Si., Ak., CA, yang memperkenalkan pembicara utama, Prof. Dr. Sunyono, M.Si.. Dari awal, Prof. Sunyono sudah mencuri perhatian. Beliau tidak langsung memaparkan teori, tetapi bercerita. Tentang agaimana dunia kerja sudah berubah total, betapa cepatnya teknologi berkembang, dan agaimana kita-mahasiswa-harus belajar menyesuaikan diri.
Beliau menegaskan ahwa kemampuan digital kini bukan lagi nilai tambah, tapi asar. kebutuhan "Kalau kalian tidak melek teknologi, kalian akan tertinggal," capnya. Namun,teknologi saja tidak cukup. Kreativitas, empati, dan kemampuan berpikir kritis adalah hal yang membuat manusia tetap unggul di tengah gelombang otomatisasi.
Materi berikutnya membahas keterampilan komunikasi efektif bagaimana menyampaikan de dengan percaya diri-dan kenapa kolaborasi lintas jurusan bisa menghasilkan karya yang midak pernah terpikirkan sebelumnya. Beberapa maba sibuk mencatat, sementara yang lain mendengarkan sambil mengangguk.
Saat istirahat siang, Gedung GSG Unila penuh dengan obrolan seru: ide bisnis, rencana ikut pelatihan, hingga diskusi soal UKM mana yang akan dicoba. PKKMB hari ini seperti menyalakan "mesin" di kepala para maba-mereka mulai memikirkan apa saja yang bisa mereka lakukan selama kuliah.
Menjelang suasana sore, berubah. sedikit lampu diredupkan, layar besar menampilkan logo-logo UKM, dan musik mulai terdengar. Satu per satu UKM tampil memamerkan keunikan mereka. Ada UKM seni yang membius penonton dengan tari tradisional penuh warna, UKM bela diri yang membuat penonton berdecak kagum dengan gerakan cepat dan presisi, hingga UKM musik yang sukses membuat tepuk tangan bergemuruh.
Beberapa UKM lain memanfaatkan momen untuk berbicara langsung kepada mahasiswa baru- mengajak bergabung, mereka bercerita tentang pengalaman seru di organisasi, hingga menegaskan bahwa UKM adalah tempat terbaik untuk mengasah kemampuan non-akademik. Tidak sedikit maba yang terlihat langsung tertarik, bahkan mencatat nama UKM yang ingin mereka cari tahu lebih lanjut.
Puncaknya, seluruh penampilan UKM ditutup dengan semangat yang sama: di UNILA, peluang tidak hanya datang dari ruang kuliah, tapi juga dari setiap kegiatan yang dijalani. Sore itu, para mahasiswa baru pulang membawa lebih dari sekadar materi pembelajaran. Mereka pulang dengan daftar mimpi baru-entah itu ikut lomba, membangun komunitas, atau mencoba hal yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. Hari kedua PKKMB ini membuktikan, menjadi mahasiswa UNILA berarti siap untuk belajar, berjejaring, dan berkembang di setiap kesempatan yang ada.
3. Materi Day 3 PKKMB Fakultas
“Pembelajaran di Perguruan Tinggi di Era 4.0 dan Plagiarisme”
Pemateri: Prof. Dr. Nairobi, S.E., M.Si.
Revolusi industri mengubah cara kita belajar dan bekerja, di era sekarang transformasi teknologi melalui AI, data, dan atomisasi memberi dampak signifikan pada studi. Pembelajaran ini bertujuan untuk membentuk lulusan adaptif yang di mana mahasiswa baru diharapkan agar mudah untuk beradaptasi, dan mudah menyesuaikan diri terhadap kewajiban teknologi.
Selain itu ada beberapa hal yang harus dimiliki mahasiswa, yaitu:
1. Keterampilan yang Harus di Miliki:
2. Literasi digital
3. Penggunaan platform pembelajaran dan kolaborasi
4. Etika digital dan keamanan data
5. Kesiapan yang Harus di Miliki
6. Keterampilan digital
7. Kolaborasi dan komunikasi
8. Pembelajaran berkelanjutan
Mahasiswa baru juga diharapkan memiliki pemikiran bahwa pembelajaran itu sepanjang hayat yang berarti tidak ada batasnya, dan juga teknologi itu sebagai pendukung bukan sebagai pengganti.
Kolaborasi dan Komunikasi di Era Digital 4.0:
1. Kolaborasi multidisipliner digital
Bekerja sama dengan teman dari berbagai jurusan menggunakan platform online manapun.
2. Komunikasi digital efektif
Menggunakan bahasa yang tepat dan jelas dalam komunikasi digital.
3. Time management digital
Memanfaatkan aplikasi management tugas dari kalender digital untuk mengoptimalkan produktivitas dan deadline.
4. Kuliah online terstruktur
Aktif mengikuti dan berkontribusi kelas virtual dan memanfaatkan platform digital.
Beliau juga menjelaskan bahwa AI seharusnya dijadikan alat bantu pembelajaran seperti membantu meringkas materi, analisis pribadi untuk evaluasi diri, serta penggunaan AI yang bijak, mendorong kreativitas dan pemikiran kritis, beliau berharap semoga AI bukan dijadikan pengganti pembelajaran melainkan hanya pembantu saja. Kita juga dianjurkan agar selalu melakukan cross check terhadap hal apapun yang kita baca melalui AI agar tidak mudah termakan hoax.
Selanjutnya beliau memaparkan tentang materi plagiarisme. Plagiarisme adalah tindakan mengambil atau menggunakan karya orang lain (ide, kata-kata, atau informasi) dan menyajikannya seolah-olah itu adalah karya sendiri tanpa memberikan penghargaan yang layak kepada penulis aslinya. Plagiarisme juga memiliki dampak, yaitu merusak reputasi, menghambat perkembangan pribadi, dan berpotensi menimbulkan masalah hukum.
Di penghujung materi beliau menjelaskan beberapa strategi pencegahan plagiarisme untuk mahasiswa baru, yaitu membuat portofolio akademik sejak awal dan mencatat segala sumber dengan benar dan teliti.
“Class, Carier, and Connection”
Pemateri: Dr. Ernie Hendrawaty, S.E., M. Si
Pada awal materi beliau menjelaskan ada 3 pilar utama mahasiswa, yaitu Class, Carier, dan Connection.
1. Class: Perkulihan bisa dilakukan secara tatap muka ataupun virtual, daring melalui LMS dan diskusi kelompok. Beliau juga memberi tahu bahwa di FEB Unila terdapat kelas internasional.
2. Carier: Menyusun karir mulai dari semester 1 hingga semester 8
3. Connection: Membangun relasi sebanyak-banyaknya dengan teman seangkatan, alumni, bisa juga dengan teman dilain fakultas, jangan lupa juga untuk bergabung kedalam organisasi.
“Strategi Sukses Mahasiswa Baru”
Pemateri: Dr. Sudrajat, S.E., M.Acc., Ak., CA.
Pada materi ketiga disini lebih kompleks dalam membahas strategi sukses mahasiswa baru, ada beberapa strategi yang disampaikan, yaitu aktif berpartisipasi dalam hal akademik dan non-akademik, membangun profil profesional media sosial seperti Linkedin, dan menjalin komunikasi aktif dengan dosen pembimbing.
Selain itu, beliau juga membagikan tips agar lulus tepat waktu, yaitu manajemen waktu konsisten sejak awal, disiplin menyelesaikan tugas dan aktif dikelas, konsultasi rutin dengan dosen pembimbing akademik, menyeimbangkan antara organisasi dan akademik, menyelesaikan minimal 144 SKS kurang dari 4 tahun, jangan sampai mengulang mata kuliah, dan yang terakhir memiliki rasa tanggung jawab atas diri sendiri juga orang yang telah membiayai perkuliahan.
“Hak dan Kewajiban Mahasiswa”
Pemateri: Dr. Neli Aida, S.E., M.Si
Di materi ke-empat ini dijelaskan beberapa hal mulai dari Hak Mahasiswa, Kewajiban Mahasiswa, Larangan serta Sanksi Mahasiswa.
Hak Mahasiswa:
1. Menggunakan kebebasan akademik yang bertanggung jawab
2. Pindah program studi di dalam dan di luar Unila
3. Memperoleh layanan kesejahteraan
4. Ikut serta dalam kegiatan dan memimpin organisasi kemahasiswaan
5. Memperoleh layanan khusus bagi penyandang disabillitas
Kewajiban Mahasiswa:
1. Menanggung biaya Pendidikan
2. Mematuhi semua ketentuan yang berlaku di Unila
3. Memelihara sarana dan prasarana kebersihan, ketertiban dan keamanan
4. Menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi
Larangan Mahasiswa:
1. Mengganggu pemenuhan hak dan pelaksanaan tugas warga unila
2. Melakukan pemaksaan penggunaan fasilitas
3. Memberikan sesuatu kepada dosen dan tenaga kependidikan untuk keuntungan akademik
4. Merusak dan mencuri fasilitas umum dan Pendidikan
5. Mengancam, menganiaya, dan membunuh
Sanksi:
1. Sanksi Ringan, berupa teguran lisan dan tulisan
2. Sanksi Sedang, berupa pelarangan mengikuti kegiatan perkuliahan 1 semester, pencabutan hak fasilitas tertentu, pencabutan hak kegiatan mahasiswa, dan mengganti kerugian.
4. Materi Day 4 PKKMB Fakultas
Pada hari ke-empat PKKMB diawali dengan pengenalan sarana dan prasarana fakultas dalam menunjang perkuliahan. Mahasiswa dibagi berdasarkan prodi nya masing-masing dan diarahkan untuk memasuki ruangan yang sudah ditentukan, pada prodi saya yaitu IESP kami diarahkan untuk masuk ke Gedung A101. Disana kami mengenal lebih dalam tentang prodi IESP mulai dari dosen hingga penjelasan tentang mata kuliah serta sistem pembelajaran di perkuliahan. Kami juga dijelaskan tentang peran dosen pembimbing akademik (DPA), yaitu membimbing penyusunan rencana studi semester (validasi dan pemilihan mata kuliah), monitoring dan evaluasi perkembangan studi pembangunan, memfasilitasi konsultasi berkala ≥3x/semester, memberi dukungan akademik dan non-akademik serta mengusulkan konsultasi lebih lanjut bila perlu, dan memberi info sistem akademik, fasilitas kampus serta perilaku dan motivasi belajar. Setelah itu disampaikan pula tentang strategi perkuliahan yang efektif agar dapat lulus tepat waktu dan yang terakhir ditutup dengan sharing session oleh alumni.
Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan materi oleh BCA Konvensional, BCA Syariah, pemateri IPOT, dan terakhir sharing session oleh alumni FEB. Setelah banyaknya materi yang disampaikan hari ke-empat pun ditutup dengan pengenalan ORMAWA yang ada di FEB, antara lain:
1. BEM
2. HIMEPA
3. HMJ
4. HIMAKTA
5. PILAR
6. EBEC
7. ROIS
8. KSPM
9. EEC
0 Komentar